Penampilan band Perunggu di Masjid Jogokariyan menjadi polemik karena dianggap menyatukan musik dan masjid. Orang mempertanyakan kepantasan dan kesesuaiannya dengan syariat. Sebagian menganggap ini bagian dari dakwah kekinian untuk menarik lebih banyak orang ke masjid, tapi sebagian yang lain menganggap penggunaan musik di area masjid berlebihan bahkan haram.
Disclamer dulu, sebagai orang yang lahir dan besar di Jogja saya lumayan akrab dengan Masjid Jogokariyan. Kurang lebih saya mengerti denah masjidnya minimal untuk area yang bisa diakses publik, jadi saya tahu exactly di mana penampilan Perunggu itu digelar. Saya sudah beberapa kali menulis di blog ini tentang Masjid Jogokariyan, mungkin ini masjid yang paling sering saya mention di sini. Sebagai konsekuensinya, kedekatan itu juga memungkinkan adanya bias dalam saya berpendapat. After all, tulisan ini murni pendapat saya pribadi yang sangat mungkin salah.
Lalu disclaimer selanjutnya adalah saya pendengar musik juga, saya termasuk yang menganggap musik itu boleh asal tidak berlebihan dan tidak bercampur dengan maksiat. Karena kalau berpendapat bahwa musik itu total haram maka kita tidak perlu lagi membicarakan di mana musik itu dimainkan.
So, menurut keyakinan saya..
Tempat band Perunggu main musik kemarin kalau saya bilang ada di area abu-abu memang. Selasar yang dipakai bukanlah serambi yang rutin dipakai untuk salat, melainkan lebih seperti area serbaguna. Tentu dalam situasi tertentu ketika jamaah banyak seperti salat ied tempat itu bisa dipakai untuk salat, tapi sehari-hari itu bukan area suci. Jika area itu dipakai acara diskusi, rapat, talkshow, ceramah, atau makan-makan saya yakin tidak akan ada yang mempermasalahkannya. Pada Ramadhan kali ini banyak juga acara digelar di sana walaupun saya cuma nonton dari YouTube.
Di sisi lain, area ini secara fisik masih 'satu atap' dengan masjid sehingga kalau dibilang bagian dari masjid ya nggak salah juga. Sebenarnya Perunggu ini bukan satu-satunya musik yang pernah ada di sana, beberapa diskusi diiringi musik sudah pernah ada termasuk di Ramadhan tahun ini ketika ada collab antara Ustadz Jojo Ali Yusuf dan Orkes Pensil Alis. Tapi untuk Perunggu selain formatnya band-band-an, fans-nya juga terlalu banyak sampai menempati area serambi salat. Menurut saya di sini lah acaranya cross the line.
Ketika melihat line-up Ramadhan Masjid Jogokariyan jujur tampak seru, upaya menyolatkan orang hidupnya kelihatan sekali. Tapi tadinya saya pikir Perunggu ini akan dibuatkan panggung di jalan atau di parkiran mobil/bis. In that case, it's fine. Saya tidak menyangka konsernya akan dilakukan di selasar. Mau itu hanya akustikan atau yang dibawakan adalah lagu religi menurut saya tetap kurang pas. Alasannya sama dengan kenapa lagu-lagu Maher Zain dan Opick bagus diputar di acara syawalan tapi tetap tidak pantas diputar di masjid.
Cak Nun pernah bilang bahwa kalau bawa Kiai Kanjeng beliau maksimal banget di halaman, tidak pernah mau di serambi masjid apalagi ruang utama. Sebelum bicara syariat, menurutnya secara estetika saja sudah tidak cocok. Sebagai salah satu sesepuh yang menggunakan musik sebagai media dakwah tentu pendapat beliau pantas dipertimbangkan. Saya cukup yakin panitia Ramadhan Masjid Jogokariyan akan belajar dari kejadian ini dan lebih bijak dalam menyelenggarakan acara.
Masjid Jogokariyan bukan masjid baru, sepak terjangnya dalam dunia dakwah di Indonesia sudah panjang sekali. Ini adalah masjid yang sudah mature, bahwa ada kesalahan terjadi ya siapa sih manusia yang tidak pernah salah selain Nabi? Kejadian ini akan viral selama beberapa hari, Jogokariyan akan 'diserang', tapi menurut saya itu tidak cukup untuk menutup legacy yang sudah dibangun puluhan tahun. Dengan ijin Allah orang akan tetap datang ke Jogokariyan.
Patut disayangkan kejadian ini memicu perdebatan antar sesama muslim di bulan suci Ramadhan. At some point diskursusnya sampai sindir-sindiran antar golongan seolah-olah perbedaan kalender saja belum cukup. Tak bisakah meyakini kebenaran yang dipegang tanpa menganggap orang lain pasti salah?
Tapi di sisi lain streisand effect-nya justru kejadian ini mungkin membuat Masjid Jogokariyan dan Perunggu lebih terkenal. Kini masyarakat umum jadi terpapar lagu 33x yang kalau diresapi liriknya sebenarnya dalam:
Risalah terikatnya
Batin dan raga yang mengunci
Diatas Sang Maha Daya
Semua kendali terambil alih
Jikalau kau keluhkan
Dengung sumbang yang mengganggu
Buka lagi visimu
Kau tahu mana urutan satu
Saya berharap kesalahan serupa tidak terulang karena satu kali khilaf dua kali berarti ada yang salah. Pandangan saya juga akan berbeda kalau ini sampai terjadi lagi. Masjid tidak didesain untuk musik dan saya sangat yakin Masjid Jogokariyan sudah cukup menarik tanpa musik.
Terakhir, untuk antum yang belum pernah ke Masjid Jogokariyan, silakan coba datang ke sana pada bulan Ramadhan dari sore sebelum berbuka sampai malam setelah tarawih dan rasakan suasananya, lebih bagus lagi kalau sekalian sampai sahur dan jamaah subuh :)
Allah yang Maha Mengetahui.
Chandra
foto-foto: @rangga_ip